Social Media

Blog Update: What a Life, ya Allah

Ketika saya memutuskan untuk mengaktifkan blog ini kembali (kesekiankalinya), saya berfikir apa yang mau saya tuliskan?! Setelah mencoba mencari-cari ide, akhirnya saya memilih untuk update kehidupan pribadi saja dulu. Toh dulu saya buat blog ini untuk jadi digital diary, sebelum akhirnya tergoda ini-itu yang nggak jelas juntrungannya. Jadi mari kembali saja ke khittah blog ini. 😅

By the way, kalau kamu sendiri lebih suka tema blog yang seperti apa sih?! Jujur saya kadang suka insecure kalau mau post tulisan karena khawatir akan membuat yang baca jadi nggak nyaman. Itulah makanya sekarang kalau nulis di Instagram misalnya, saya lebih hati-hati. Nggak bisa nyablak dan apa adanya seperti dulu. Beberapa teman ada yang bilang, 'nggak pa-pa aku suka kok sama kenyinyiran kamu'. Ya tapi saya juga jadi keder kalau dihujat macam Beauty Vlogger yang dibully rame-rame sama netizen kemarin itu.

Back to the life update, sepertinya tahun 2020 sudah memberi kejutan hebat sejak awal datang ya?! Saya membaca banyak cerita tentang rencana-rencana yang gagal, tapi tentu saja tetap ada kesempatan untuk hal baik di setiap peristiwa. Bagi saya sendiri tahun ini istimewa. Banyak hal-hal baik yang saya alami yang kalau tidak saya tuliskan mungkin akan membuat saya lupa untuk mensyukurinya. 

Menjadi 30

Bulan April kemarin saya genap berusia 30. Bagaimana rasanya? Ya biasa saja sih. 😂  Tetap nggak ada tiup lilin atau kado ulang tahun. Tapi paling tidak, momen 30 ini berhasil jadi pengingat untuk saya bahwa bisa jadi jatah waktu di dunia ini sudah nggak lama lagi. Di lain sisi itu jadi penyemangat saya supaya lebih giat belajar. Lho, bukannya harus banyak ibadah kok malah belajar?! 

Pekerjaan paling menyenangkan adalah hobi yang dibayar.

Pernah dengar atau baca kutipan dari Ridwan Kamil di atas kan?! Saya pun membuat jargon untuk diri saya sendiri. Ibadah paling menyenangkan adalah hobi yang berpahala. 😌 Setelah melalui proses berfikir yang lumayan lama, saya memutuskan untuk menekuni hobi yang sudah cukup lama saya tinggalkan; belajar. Thanks to Instagram, lagi-lagi saya menemukan ternyata menjadi orang yang suka belajar itu nggak aneh. Saya ketemu sama anak 20 tahun yang belajar 3 bahasa di Jerman, guru SD yang kuliah Ph.D di Australia, atau orang random yang nggak tahu siapa tapi fasih berbahasa Arab yang bikin saya keki setengah mati. Dan yang lebih menarik lagi, semua itu mereka lakukan online, #dirumahaja .

Saya pun minta izin ke suami untuk menekuni hobi saya itu. Alhamdulillah beliau sih orangnya asik-asik aja. Sekarang saya sedang menyusun rencana belajar bahasa Inggris secara mandiri, bersiap menyambut season 2 untuk bahasa Arab, melanjutkan hafalan Qur'an, dan ada beberapa jadwal kajian yang harus diurus supaya nggak bentrok waktunya. Benefitnya, saya merasa lebih hidup dan nggak ada perasaan bersalah karena semua aktifitas itu saya niatkan untuk ibadah. Mohon maaf ya, saya susah banget kalau harus rutin shalat atau puasa sunnah. Rasanya susah banget untuk ikhlas, padahal salah satu kunci supaya ibadah diterima kan dari keikhlasannya. Jadi, saya fokus sama belajar aja. Lagipula, belajar itu kan wajib sementara hal yang wajib harus lebih diutamakan daripada yang sunnah. 😌 du-du-du-du-du.... 🎵🎵🎵

Kembali mengajar

Akhir bulan Februari tiba-tiba suami bilang kalau saya diminta mengajar lagi di sekolah. Kondisinya mendadak karena salah satu guru tahfidz ada yang meminta cuti besar. Sejak ibunya meninggal, ayahnya terkena serangan jantung sementara beliau tinggal sendiri di rumah. Kalau saya yang jadi anaknya juga pasti akan langsung khawatir dong, kalau ayah kita tiba-tiba kena serangan jantung dan sendirian di rumah. 

Saya langsung setuju saja ketika ditawari suami. Agak lucu juga sih, mengingat dulu saya ingin sekali resign dari pekerjaan ini. Tapi ternyata take a break sebentar itu bikin point of view saya jadi lebih luas. Saya merasa lebih siap menghadapi dunia sekolah yang begitu-begitu itu lah... Dan here I am, sudah 3 bulan ini kembali tinggal di asrama.

Salah satu keuntungan kembali mengajar ini adalah saya jadi lebih dekat dengan tempat belajar tahsin sekarang. Saya nggak perlu keluar biaya untuk bayar gojek setiap kali mengaji karena bisa minta antar suami sebentar pakai motor.


Bertemu Corona

Baru sebulan ngajar, tiba-tiba saya dikejutkan dengan kedatangan Corona di Indonesia. Seingat saya, berita tentang virus ini muncul pertama kali akhir Januari. CMIIW. Semua orang mengira ini hanya epidemi di Wuhan, tapi ternyata seluruh dunia sekarang harus menghadapinya.

Satu hal yang saya akan selalu ingat tentang pandemi ini adalah kata-kata ustadz Budi Ashari, "orang yang mengerti sejarah, tidak akan panik menghadapi apapun." Atau kira-kira begitulah maknanya. Saya ingat betul bagaimana orang-orang di sekitar saya yang awalnya membicarakan tradisi hidup orang Wuhan yang suka makan binatang liar, atau yang dengan pongah bilang ini semua hanya konspirasi China. Pada akhirnya apapun yang diasumsikan orang-orang selalu hanya akan jadi asumsi selama tidak ada buktinya. Sementara kita harus menghadapi virus ini, yang nyata adanya. Dan petunjuk paling jelas adalah dengan membuka sejarah.

Corona juga memberi tahu bahwa saya ternyata tidak cocok dengan metode homeschooling. Dua bulan menjalankan tugas sekolah Qia sambil mengajar sukses membuat saya kelabakan. Akhirnya saya merelakan beberapa porsi belajar saya sendiri. Walaupun begitu ternyata saya tetap tidak berhasil mengikuti ritme belajar yang dibuat sekolah Qia. Mirisnya, sepertinya saya harus berusaha menaklukkan persoalan homeschooling ini karena si Corona belum mau pergi sampai hari ini.

***
Sepertinya tiga hal itu saja yang perlu saya ingat. Lainnya, biarlah berlalu saja dulu.Toh saya sendiri yang salah karena tidak segera menulis di sini setiap ada hal-hal penting yang saya alami. Seperti waktu Qia pertama kali masuk sekolah tahun lalu, atau ketika suami saya berhasil berangkat umroh. Saya yakin, di waktu-waktu ke depan akan ada lebih banyak hal menakjubkan yang saya temui.

Semakin cepat putaran waktu sekarang, semakin banyak peristiwa yang melintas seiring dengan kuatnya arus informasi di kehidupan saya. Beberapa peristiwa berhasil membuat saya berfikir keras, seperti kematian George Floyd pekan lalu atau ada juga yang membuat geram seperti isu konspirasi di balik pandemi Covid-19 ini. Peristiwa-peristiwa itu secara langsung ataupun tidak cukup mempengaruhi hidup dan terutama pikiran saya. Sebagai orang yang mudah overthinking, hal-hal seperti itu bisa membuat saya kehabisan energi. Saya berharap, dengan kembali menulis di sini bisa jadi sarana saya untuk recharge energi dan menyepi dari semua hiruk-pikuk dunia baik nyata maupun maya.

3 comments

  1. Selamat ulang tahun juga mba dan selamat kembali menulis lagi. Saya juga sekarang menjadikan menulis untuk mengisi lagi energi saya karena memang menulis bikin tenang.

    ReplyDelete
  2. life update saya kayaknya masih sama aja dengan tahun lalu. udah bikin target sih tapi ternyata nggak mudah mewujudkannya.
    btw, saya dulu juga semangat banget belajar bahasa asing, inggris sama jepang. tapi setelah kerja udah nggak punya waktu buat belajar. sedih juga jadinya....

    ReplyDelete
  3. Salam kenal kak Zuzu 👋🏻
    Kalau tema khusus untuk blog yang aku sukai, ya yang seperti blog kak Zuzu ini. Cerita ringan mengenai kehidupan sehari-hari ☺️
    Oiya, selamat berulang tahun kak Zuzu walaupun udah telat banget hahaha. Dan, selamat kembali mengajar walaupun mungkin sekarang lebih banyak kerja di rumah ya 😂
    Tapi tetap semangat ya kak Zuzu. Semoga corona ini bisa segera berlalu 😂

    ReplyDelete

Instagram

Theme by BD