Social Media

Reading List Juni 2020

Berterimakasihlah saya pada virus Corona yang membuat waktu begitu lambat berjalan sehingga saya punya banyak waktu untuk menjelajah ke dunia literasi yang lebih luas. Tahun lalu, saya belum berhasil mewujudkan resolusi membaca buku. Karena lagi-lagi buku-buku yang saya baca masih buku-buku dengan tema Islam. Dan tahun ini Alhamdulillah saya sudah baca beberapa buku selain yang bertema Islam. Sebuah fiksi dari Sapardi Djoko Damono dan satu buku pengembangan diri saya tuntaskan beberapa waktu lalu.

So many books, so little time. Setelah dipikir-pikir, tidak akan pernah ada habisnya kalau mau berburu buku-buku kekinian. Tiap bulan selalu ada saja novel baru yang dirilis, akan selalu ada buku terjemahan yang nampang di etalase Gramedia, juga ada banyak tantangan membaca dari klub-klub buku yang saya ikuti di Instagram. Sementara ada ribuan kitab ulama Islam yang menantang untuk dipelajari. Saya sempat refleksi kembali, selama ini baca buku untuk apa?! Apa untuk gaya-gayaan bahwa hobi membaca itu sungguhan, begitu?!

Akhirnya selama bulan Mei kemarin saya memutuskan untuk kembali membeli buku-buku yang temanya dekat dengan Islam. Walaupun tidak populer, tidak bisa dipamerkan di komunitas bookstagram, tapi bisa membuat saya puas. Lagipula justru dengan memilih buku yang tidak populer, siapa sahu saya bisa menemukan buku yang ssebenarnya jauh lebih bagus daripada yang terkenal dan best seller di mana-mana. Dan saya yakin, kamu pasti akan tertarik juga dengan beberapa buku yang mau saya tuliskan blurb-nya di sini.



Nurul Yaqin

Kalau ditanya tentang buku Sirah Nabawiyah, saya yakin 100% orang-orang pasi akan merekomendasikan karya Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri. Ya, buku itu memang bagus, lengkap dan gaya penulisannya mudah dipahami. Tapi percayalah, Nurul Yaqin jauh lebih ringan bagi kalian yang masih pemula. Di pesantren, kitab inilah yang jadi rujukan dan diajarkan kepada santri-santri junior. Kitab ringkasannya, terdiri dari 3 jilid biasanya diajarkan kepada anak-anak usia 10-14 tahun sebagai perkenalan awal terhadap kehidupan dan dakwah Rasulullah saw. Jadi secara teknis, saya sudah pernah baca kitab ini.



Ketika tahu penerbit Ummul Qura menerjemahkan kitab ini, saya tidak perlu berpikir lama untuk membelinya. Saya tidak berencana untuk menyelesaikan kitab ini selama sebulan karena pasti akan sulit, tapi setidaknya saya punya komitmen untuk membaca ulang supaya ingatan tentang peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan Rasulullah saw tidak hilang dari kepala saya.

Jangan Ditunggu !!! Isa bin Maryam Tidak Akan Turun di Akhir Zaman



Saya menemukan buku ini ketika sedang mencari alternatif harga termurah dari buku Isa bin Maryam terbitan Ummul Qura yang terbaru. Dia muncul di sela-sela gambar buku Isa bin Maryam yang dijanjikan akan menjadi pendamping Imam Mahdi di akhir zaman. Profokatif sekali ya, judulnya?! Saya pun sempat merasa judul itu hanya gimmick untuk memancing kita supaya mau membeli. Apalagi penerbit dan penulisnya tidak saya kenal. Tapi ketika melihat kata pengantarnya ditulis oleh Irena Handono, saya mulai penasaran. Apalagi dibagian belakang bukunya dikutip sedikit bahwa ternyata Buya Hamka tidak percaya dengan risalah tentang kemunculan Isa bin Maryam di akhir zaman. Menarik ya?!

Renungan Tentang Umur Manusia



Dari mana asal kita? Apa tujuan kita hidup di dunia ini? Setelah mati lalu apa? Bagi yang beragama, tentu pertanyaan-pertanyaan semacam itu mudah saja dijawab. Tapi bagi yang kehilangan orientasi hidup, menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu bisa membuat stress. Dan terkadang, ketika berhadapan dengan orang-orang itu kita jadi kurang berempati sehingga malah nasihat yang dilontarkan terasa menyakitkan bagi mereka. Saya membeli buku ini terutama untuk pengingat diri, dan sebagai sarana belajar tentang bagaimana caranya menyampaikan dalil dengan indah tanpa terkesan menggurui tapi mengena di hati. Ini adalah buku kedua dari Imam Al-Haddad yang saya miliki. Kalau kamu belum pernah membaca karya beliau, mulai sekarang cari dan bacalah.

Memilih Jomblo



Alhamdulillah saya sudah tidak jomblo sehingga tentu saja buku ini bukan pembenaran dari sebuah ketidakmampuan. Saya membeli buku ini bukan hanya penasaran dengan penulisnya yang merupakan pendukung utama salah satu kelompok feminis muslim di Indonesia, tapi juga karena memang secara pribadi saya setuju pada pilihan untuk menjomblo. Harapan saya, dengan membaca buku ini mungkin akan ada persepsi baru tentang pilihan hidup menjomblo bagi muslim. Bukan sekadar dibayang-bayangi ancaman dari Rasulullah tapi benar-benar paham dan sadar tentang konsekuensi logis terhadap pilihan tersebut. Baik di dunia maupun di akhirat.

Kids Zaman Now, Menemukan Kembali Islam



Belakangan ini mulai banyak buku-buku yang mengkritik tentang fenomena hijrah yang seolah jadi trend di kalangan anak muda. Beberapa diantaranya karya Kalis Mardiasih yang sampai sekarang belum juga saya miliki. Dan buku ini sepertinya jadi salah satu buku semacam itu. Dan buku ini juga salah satu buku yang saya beli hanya karena endorse preface-nya. Setelah saya lihat-lihat daftar isinya, saya cukup yakin bahwa penulisnya adalah jama'ah Maiyah. Tapi kita lihat saja nanti, apakah isi bukunya sehebat penulis kata pengantarnya.

***

Ternyata cukup melegakan ya membuat rencana seperti ini. Padahal biasanya saya cuma comot saja di tumpukan kalau ingin membaca. Tapi dengan begini semoga saja pemahaman saya jadi lebih utuh terhadap masing-masing bukunya karena dibaca dari awal hingga tuntas tanpa jeda yang terlalu lama. Lima (atau empat) rasanya sudah cukup untuk menemani bulan ini bagi saya. Mudah-mudahan nanti saya bisa tuliskan review dari masing-masing buku itu di sini atau di instagram.

Kalau kamu, punya rencana baca buku apa bulan ini?!

Post a comment

Instagram

Theme by BD