Social Media

So, What's Your Name?

 


 Bismillahirrahmanirrahim,

 

Assalamu'alaikum, ukhti...


Tahu nggak, makin ke sini ungkapan-ungkapan bernuansa Arab yang biasanya dulu diucapkan para Ikhwah Fillah itu makin hilang.  Contohnya ya panggilan ukhti/akhi, ungkapan afwan, ... bahkan saya sendiri juga lupa apa yang dulu sering diucapkan saking nggak pernah lagi memakai ungkapan-ungkapan itu. Makanya ketika mengetik kata ukhti, saya agak geli sendiri. Dalam hati saya berpikir, 'siapa yang akan merasa terpanggil ketika saya mengucapkan kata itu di kehidupan nyata?


Tapi cerita kali ini bukan tentang istilah Arab. Pagi ini saya ingin menulis tentang apa yang muncul dalam pikiran saya sejak menonton sebuah video TedX Talk di YouTube beberapa waktu yang lalu. Saya sendiri baru sadar kalau acara Ted Talk ada banyak macamnya. Yang mau saya bahas kali ini adalah sebuah cerita dari Amal Kassir, ketika dia cerita tentang jarak yang muncul dari dua orang stranger hanya karena satu hal sederhana. Tidak bertanya siapa namanya. Karena dari pertanyaan sederhana itulah akan muncul banyak cerita.


Kita hidup di zaman orang-orang terlalu mudah memberikan "nama" kepada orang yang tidak dikenalnya hanya dengan melihat gaya berpakaian, warna kulit atau penampilannya. Ketika melihat perempuan bercadar, misalnya, yang muncul dalam pikiran kita -mungkin saja- "ekstrimis, radikal, aliran sesat(?), salafi, wahabi, lusuh, dan lain-lain". Pikiran-pikiran semacam itulah yang membuat banyak tindakan teroris di seluruh dunia. Tentu saja kita masih belum lupa, kejadian yang menimpa George Floyd beberapa waktu lalu. Atau seperti yang dikisahkan kembali oleh Amal dalam videonya, kematian Deah, Yusor dan Razan yang mengenaskan. Semua itu terjadi hanya karena mereka membiarkan pikirannya memberi nama kepada orang yang bahkan tidak dikenal. "He assigned it to them when he assigned them each a bullet, named them a threat to his America, and as a result, took their lives." Menyedihkan, karena manusia kini sudah tidak tertarik lagi untuk saling mengenal satu sama lain, bahkan mudah berprasangka dan melakukan tindak kriminal hanya karena hal sepele. 


Lebih jauh, melihat ke dalam tubuh umat Islam sendiri, saya tertegun ketika tidak lama kemudian mengisi kajian tentang beriman kepada hari akhir. Sebuah hadits yang menunjukkan tanda hari kiamat makin dekat adalah ketika ucapan salam hanya disampaikan kepada orang-orang yang dikenal. 

 مِنْ أَشْرَاط السَّاعَة أَنْ يَمُرّ الرَّجُل بِالْمَسْجِدِ لَا يُصَلِّي فِيهِ ، وَأَنْ لَا يُسَلِّم إِلَّا عَلَى مَنْ يَعْرِفهُ
“Di antara tanda-tanda (dekatnya) hari kiamat adalah seseorang melewati masjid yang tidak pernah dia shalat di sana, lalu dia hanya mengucapkan salam kepada orang yang dia kenali saja.”

Sebagai muslim sejak lahir, tentu saja saya terbiasa mengucapkan salam setiap masuk rumah atau ketika tiba di suatu tempat. Tapi ketika di jalan dan bertemu dengan sesama muslim?! Tidak pernah. Bisa bayangkan kalau misalnya saya ke mall dan mengucapkan salam ke setiap perempuan berjilbab yang berpapasan dengan saya, kemungkinan yang terjadi ada dua; saya kelelahan atau orang-orang akan menatap nyinyir ke saya. 😁  Tapi memang di situlah masalahnya. Ternyata mengucapkan salam atau menanyakan nama --yang pada intinya adalah langkah pertama untuk saling mengenal-- sudah tidak menjadi sifat natural kita sebagai manusia. Padahal Allah ciptakan kita dengan berbagai macam suku dan bahasa adalah untuk saling mengenal.


Kita seperti sudah terlatih untuk tidak peduli pada orang lain; tentang namanya, ceritanya, isi kepalanya, kesulitan hidup yang dilaluinya, dan lain sebagainya. Begitu melihat sosok manusia dengan tampilannya, otak kita otomatis membuat sendiri semua itu; kita melabelinya dengan apapun yang muncul di dalam kepala kita. Lalu terjadilah kesalahpahaman itu. Hanya karena satu hal sederhana, tidak bertanya siapa namanya.


Maka kali ini saya mengajak siapapun yang membaca tulisan ini, untuk kembali membersihkan isi hati dan pikiran kita yang selama ini mudah melabeli orang lain hanya dari penampilannya. Jika punya kesempatan, tanyalah namanya. Dari situ kita akan melangkah lebih jauh lagi, cerita-ceritanya akan membuat kita takjub. Pengalamannya mungkin akan membuat kita belajar. Dan mungkin kita akan menambah saudara karena bisa jadi kita punya kesamaan nasab. Tapi itu hanya akan terjadi jika kita mau memulai sebuah pertanyaan sederhana, 'what's your name?'

مِنْ أَشْرَاط السَّاعَة أَنْ يَمُرّ الرَّجُل بِالْمَسْجِدِ لَا يُصَلِّي فِيهِ ، وَأَنْ لَا يُسَلِّم إِلَّا عَلَى مَنْ يَعْرِفهُ

Akhi, ukhti, yuk baca tulisan lengkapnya di Rumaysho:
https://rumaysho.com/3213-hanya-mengucapkan-salam-pada-orang-yang-dikenal.html

مِنْ أَشْرَاط السَّاعَة أَنْ يَمُرّ الرَّجُل بِالْمَسْجِدِ لَا يُصَلِّي فِيهِ ، وَأَنْ لَا يُسَلِّم إِلَّا عَلَى مَنْ يَعْرِفهُ

Akhi, ukhti, yuk baca tulisan lengkapnya di Rumaysho:
https://rumaysho.com/3213-hanya-mengucapkan-salam-pada-orang-yang-dikenal.html

Post a comment

Instagram

Theme by BD