Social Media

a Quarter of a Century

 


Hari ini, saya berusia dua puluh lima tahun.


Kemarin, dengan rahmat Allah, saya menemukan beberapa diari saya yang berasal dari tahun 2004. Saat saya membalik dari satu halaman ke halaman lain, saya menemukan beberapa doa yang saya buat. Dalam salah satu doa - doa yang konyol - saya berdoa agar Dia memberi saya kenikmatan dunia sebelum membawa saya kembali dekat dengannya. Saya masih muda dan naif, dan saya ingin merasakan kesenangan dunia. Saya membuat daftar lengkap dari hal-hal yang saya anggap akan memberi saya kebahagiaan, dan ketika saya membaca daftar itu hari ini, saya menyadari bahwa selama bertahun-tahun Dia telah memberi saya semua, kecuali satu, dari apa yang saya minta; baik hal yang baik maupun yang buruk. Setelah mencentang seluruh daftar periksa di sini saya hari ini, mengetuk pintu-Nya.


Dalam doa lainnya, saya meminta agar Dia membuka hati saya untuk mengenakan hijab sekali lagi saat saya masuk universitas. Sebagai pembangkangan, pada usia lima belas tahun saya telah melepas jilbab yang saya pakai sejak saya masih kecil dan memberikan diri saya sampai saya berusia delapan belas tahun untuk mengatur hidup saya. Tetapi pada usia delapan belas tahun, saya gagal dalam A-level saya dan tidak mendapatkan tempat di universitas setempat. Saya mulai bekerja penuh waktu, tanpa niat untuk melanjutkan studi, dan mengenakan jilbab adalah hal terakhir yang ada di pikiran saya. Sedikit yang saya tahu, tujuh tahun setelah berdoa, Dia menempatkan saya di universitas, dan dengan itu menempatkan hijab lagi di hati saya.


Alasan saya berbagi ini dengan Anda adalah karena saya sadar bahwa Allah benar-benar mendengarkan setiap doa kita. Tidak peduli apakah doa itu dibuat sambil lalu atau yang dibuat secara konsisten, Dia selalu mendengarkan. Artinya, kita harus lebih berhati-hati dengan kata-kata yang keluar dari lidah kita; yang ditujukan untuk diri kita sendiri, serta yang diarahkan ke orang lain. Artinya, yang lebih penting, kita harus menyadari bahwa doa kita untuk diri kita hari ini akan membentuk siapa kita di hari esok. Doa kita akan membentuk kita akan menjadi seperti apa, hubungan yang akan kita miliki, dan kehidupan yang akan kita jalani suatu hari nanti. Lalu, apakah doa kita? Lalu, apakah doa Anda?


Semoga Dia memberi kita kemampuan untuk membuat doa yang baik bagi kita di Dunia dan Akhirah.


*****


Tulisan di atas adalah cuplikan dari sebuah buku yang berjudul Light Upon Light karya Nur Fadhilah Wahid. Penulis muslimah dari Singapura. Bukunya terbit tahun lalu dan sepertinya cukup laris di luar sana. Teks aslinya berbahasa Inggris dan Alhamdulillah, dengan bantuan Google Translate yang sudah makin up to date saya salin tulisan tersebut di blog ini. 


Membaca tulisan ini membuat saya merenung; awal tahun ini saya pun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Fadhilah. Flashback tentang apa-apa saja yang sudah saya alami/capai selama 10 tahun terakhir. Dan sepertinya memang kebanyakan orang melakukan hal itu karena jadi tren awal dekade. Bagi saya pribadi juga hal itu jadi spesial karena tahun ini saya menginjak usia 30 tahun. Jadi rasanya pas saja waktunya untuk refleksi diri dan -mungkin- sedikit memberi apresiasi atas segala hal yang berhasil saya capai.


Memasuki usia 25-an biasanya dianggap sebagai awal menapaki kehidupan menjadi dewasa. Pada saat-saat seperti ini, biasanya kita akan mulai berpikir kembali tentang makna hidup, meragukan value yang selama ini diyakini, dan khawatir dengan masa depan. Belakangan saya ketahui kalau kondisi seperti itu ada istilahnya; quarte life crisis. Tema itu kemudian menjadi perbincangan panjang dan akhirnya -sepertinya- banyak anak muda yang justru khawatir dengan istilah itu sendiri.


Fadhilah, dalam suratnya ini sepertinya tidak mengalami hal itu. Sebaliknya, yang dia lakukan menurut saya justru bisa mengarahkan dirinya menjadi lebih produktif di masa depan. Dan saya harap dengan merangkum ini, kita bisa menjadikannya sebagai inspirasi supaya nggak mengalami krisis semacam itu;


1. Flashback, fokus pada hal-hal yang sudah dicapai selama ini. Seringnya kita merasa gagal menjadi manusia adalah karena terlalu fokus pada banyak kegagalan yang kita alami, sehingga lupa pada prestasi-prestasi yang mungkin sebenarnya layak untuk dirayakan. Coba deh, diingat-ingat lagi hal-hal apa saja yang sudah kita raih selama beberapa tahun ke belakang. 


2. Alih-alih khawatir pada masa depan, berdoalah untuknya. Karena dengan berdoa, kita akan lebih mudah optimis menjalani hidup. Allah ada menjanjikan bahwa Dia selalu ada menunggu kita berdoa. Jadi kenapa nggak kita angkat tangan kepadaNya dan minta apapun yang kita butuhkan?! Nggak perlu malu dengan permintaan yang 'remeh temeh', karena bahkan jika garam di dapur kita habis Allah senang kalau kita meminta kepadaNya. Atau kalau masih ragu untuk dilisankan, tulislah doa-doa itu, seperti Fadhilah. Saya sendiri dulu seriiiing sekali menulis surat kepada Allah, literally tulisan itu saya tujukan kepada Allah. Dan sepertinya sekarang saya ingin ulang lagi kebiasaan itu.


Nah, mudah-mudahan refleksi singkat ini bermanfaat buat kamu. Kalau kamu mau saya terjemahkan tulisan-tulisan Nur Fadhilah Wahid yang lain di bukunya, silakan komentar ya. Insyaallah kalau banyak yang mau akan saya jadikan series tersendiri di blog ini.

Post a comment

Instagram

Theme by BD