F Anime-anime yang sudah pernah saya tonton #2 - Zuzu Syuhada

Anime-anime yang sudah pernah saya tonton #2

Melanjutkan obrolan kita seputar anime yang saya tonton tahun 2023 kemarin, di postingan kali ini masih ada 5 anime lagi yang perlu dibahas;

1. Hunter x Hunter

Saya nonton anime ini karena salah satu Youtuber favorit saya yang membahas manganya beberapa kali, dan ketika mendengar sinopsisnya akhirnya saya memutuskan untuk mencoba menonton. Hal yang paling menarik dari cerita tentang Hunter x Hunter adalah konsep tentang keluarga.

Tokoh utama kita, Gon adalah anak 12 tahun yang diasuh oleh bibinya di sebuah pulau kecil. Selama ini dia tahunya orang tuanya sudah meninggal. Tapi ternyata suatu saat dia baru menyadari bahwa ayahnya pergi meninggalkan dirinya yang masih kecil untuk mengejar ambisi menjadi seorang Hunter. Normalnya ketika anak mengetahui bahwa orang tua pergi meninggalkannya, pasti akan marah karena merasa tidak dicintai. Tapi Gon merespon kenyataan itu dengan mengatakan, "Bukankah itu hebat? Meninggalkan anaknya dan memilih menjadi Hunter. Aku ingin mencari tahu. Ayah mendedikasikan hidupnya untuk pekerjaan ini. Aku ingin mencobanya juga."

Cara berpikir seperti itu mungkin tidak banyak ditemukan pada orang-orang Indonesia, kan? Atau orang lain pada umumnya. Tapi saya pernah mendengar perkataan serupa ketika menonton Masterchef Australia, seorang kontestan yang meninggalkan anaknya demi mengikuti lomba itu, mengatakan, "Aku tidak ingin anakku nanti menjadikanku sebagai alasannya tidak mengejar mimpinya." Untuk kita ketahui, Masterchef Australia punya reputasi yang sangat baik di dunia, yang saking bagusnya bahkan 50 besarnya bisa diterima kerja di restoran beneran setelah dieliminasi. Jadi bukan reality show ala-ala macam yang di Amerika atau negara kita. 

Dari pembukaan itu saja, saya langsung tertarik pada karakter Gon dan cerita anime ini seluruhnya. Konsep fantasinya memang absurd, tapi saya memutuskan untuk tidak mempedulikannya. Belajar dari pengalaman nonton AoT 😅. 

Gon bertemu dengan Leorio, Kurapika dan Killua dalam perjalanannya mengikuti ujian Hunter. Pada akhirnya, Killua-lah yang selalu mendampinginya sampai di episode terakhir. Leorio dan Kurapika menjalani kehidupannya masing-masing setelah ujian berakhir, dan nanti di akhir-akhir episode mereka muncul lagi sebentar untuk membantu Gon. 

Saya nggak terlalu ingat pada alur cerita Hunter x Hunter, tapi saya sangat tertarik pada Killua dan Kurapika. Sayang sekali karakter Kurapika nggak mendapat exposure lebih banyak, padahal justru kepribadiannya sangat saya sukai. Dan Killua, saya sempat mengasosiasikan diri seperti dia apalagi ketika dia mulai meragukan sifatnya yang sangat hati-hati dan penuh perhitungan sebagai sebuah tindakan pengecut. Penggambaran karakter yang baik, tidak berlebihan, dan alur cerita yang runut membuat anime ini menjadi salah satu yang saya sukai. Kalau suatu saat akan dilanjutkan, saya pasti akan menontonnya.

2. Black Clover

Ini adalah anime yang temanya klise, konsep fantasinya klise, karakter-karakternya klise, tapi tetap saya tonton sampai akhir karena saya hanya ingin bersenang-senang 😂. Kata suami sih ini ceritanya persis seperti Naruto, tapi karena saya belum pernah nonton Naruto, jadi saya nggak bisa berkomentar sama.

Ceritanya tentang Asta dan Yuno, anak yatim piatu yang diasuh di sebuah gereja pinggiran kota terpencil di Kerajaan Semanggi. Di dunia anime ini, setiap orang secara natural memiliki kekuatan sihir dengan berbagai level. Ada yang cukup untuk mempermudah pekerjaan sehari-hari, sampai yang sangat hebat. Yuno sejak kecil sudah menunjukkan kemampuan sihirnya yang hebat, sementara diluar dugaan, Asta yang pendek sama sekali tidak memiliki kekuatan sihir. Dia sering diejek karena hal itu, tapi tidak pernah menyerah untuk berlatih bahkan bercita-cita menjadi Raja Sihir.

Karena sejak awal nggak berminat untuk terlalu serius menonton, saya juga nggak terlalu fokus untuk mengkritisi. Saya cuma menikmati tiap pertarungan dengan santai, menertawakan kebodohan Asta dan interaksinya dengan teman-temannya. Walaupun begitu, sebenarnya karakter-karakter pendukungnya punya backstory yang menarik untuk diulas. Kalau saya tulis review ini langsung setelah nonton, sepertinya saya bisa cerita banyak. Sayangnya sudah cukup lama sejak itu, jadi yang saya ingat cuma cerita Noelle, Yami dan Vanessa yang menarik perhatian. Kalau anime ini ada lanjutannya, saya juga pasti akan menonton, untuk bersenang-senang.

3. Dr. Stone

Anime ini bertema sains, yang merupakan genre paling tidak saya sukai simply karena otak saya yang lola. Saya tonton karena waktu itu bingung memilih setelah nonton Black Clover, dan asal klik saja di Netflix.

Ceritanya, pada suatu hari yang tenang di Jepang tiba-tiba sebuah cahaya hijau menyinari bumi dan semua orang menjadi batu. Tokoh utama kita, Senku berusaha tetap sadar selama diselimuti lapisan batu itu dan 3000 tahun kemudian lapisan batu itu akhirnya pecah. Dia langsung berinisiatif untuk mencari cara menghidupkan orang lainnya dan diawali dari teman terdekatnya, Taiju. Awalnya mereka akan menghidupkan perempuan gebetannya Taiju, Yuzuriha, tapi kehadiran singa-singa kelaparan menyadarkan mereka bahwa kebutuhan bertahan hidup lebih utama dibanding berkembang biak pada saat itu. Akhirnya, mereka memutuskan untuk membangkitkan salah satu orang terkuat yang mereka kenal dengan harapan menjadi pelindung mereka nantinya; Shishio. Tapi tidak disangka, Shishio punya pikiran yang nyeleneh. Bukannya berniat menghidupkan lagi semua orang, dia malah ingin menghancurkan orang-orang yang dianggapnya tidak layak dan hanya menghidupkan lagi orang-orang kuat. Ini bertentangan dengan niat Senku yang berpikir bahwa semua orang berhak dihidupkan lagi, apapun alasannya. Kayak ilmuwan-ilmuwan normal pada umumnya, lah.

Yang menarik dari anime ini tentu saja adalah latar belakang sains pada setiap tindakan Senku. Meskipun konsep pretifikasi --yang baru saya tahu ketika nonton-- sangat nggak masuk akal buat otak jongkok saya, dan frasa 'satu milyar persen'nya Senku sangat mengganggu, saya tetap suka dengan alur dan karakter Senku yang cerdas. Saya suka Senku yang selalu tampak egois tapi sebenarnya peduli. Dan Taiju yang bodoh dan sadar akan kebodohannya, mendukung apapun yang menjadi tindakan Senku.

Pas nulis ini saya cek di Netflix ternyata season 3 sudah tayang, jadi saya akan nonton lanjutannya segera setelah menyelesaikan tulisan ini. Mungkin nanti akan saya tulis juga reviewnya di postingan lain.

4. My Happy Marriage

Saya nggak pernah menyangka, cerita retelling macam Cinderella bisa bikin saya nangis sesenggukan. Benar-benar bikin malu 😆, tapi saya nggak peduli untuk yang satu ini. Saya bahkan niat nabung untuk bisa beli manganya.

Saya nonton anime ini karena beberapa kali muncul di FYP Tiktok. Saya pikir bolehlah jadi selingan nonton supaya perasaan saya hidup lagi. Eh nggak tahunya baru episode pertama saya sudah sesak nafas. Karakter Miyo, tokoh utama cerita ini adalah anak pertama dari keluarga Saimori yang cukup terpandang. Ketika masih kecil, ibu kandungnya meninggal dan ayahnya menikah lagi, lalu memiliki satu anak lagi. Sayang sekali, Miyo nggak punya kekuatan supranatural seperti adiknya sehingga dia diperlakukan dengan jahat oleh keluarganya. Miyo menjadi pembantu di rumahnya sendiri.

Di usia 19 tahun, ayahnya menjodohkannya dengan seorang pemuda dari keluarga Kudo. Ternyata perjodohan itu direncanakan hanya dengan niat untuk membuangnya dari rumah, karena Kudo Kiyoka, laki-laki yang dijodohkan kepadanya itu memiliki reputasi yang buruk karena sudah berkali-kali gagal menikah. Meskipun memiliki kekuatan supranatural terkuat, Kudo tampaknya tidak bisa bersikap baik kepada perempuan. Tapi ternyata Miyo berbeda dengan perempuan lain.

Miyo yang lugu langsung naksir Kudo sejak pertama kali melihat, dan Kudo langsung kaget waktu mendengar jawaban "Iya" dari Miyo untuk semua syaratnya yang agak aneh. Miyo yang terbiasa menjadi pembantu, langsung disayang oleh pengasuh Kudo, dan penampilannya yang seperti pembantu membuat Kudo penasaran dengan latar belakang Miyo yang seharusnya berasal dari keluarga terpandang. Dari situlah satu per satu rahasia Miyo terungkap dan pelan-pelan mereka berdua makin dekat.

Setelah menonton animenya, saya langsung nonton Live Action adaptasinya dan menurut saya casting untuk karakter Miyo dan Kudo sangat cocok. Walaupun unsur fantasi di Live Action nggak terlalu enak dilihat mata saya, tapi karena kedua tokoh utama berhasil memerankan peran mereka dengan sangat baik, saya nggak peduli. Tetep nangis tiap lihat wajah lugu dan polosnya Miyo.


5. One Piece

Sekarang saya sampai di episode 416, ketika Luffy berada di Amzon Lily bertemu dengan Boa Hancock. Dan sampai hari ini saya masih terus takjub sama Eiichiro Oda dengan kemampuannya mengambil inspirasi dari cerita-cerita yang sudah populer di dunia dan mengembangkannya menjadi ceritanya sendiri. Kemampuan Hancock yang bisa mengubah manusia menjadi batu misalnya, kan jelas-jelas itu terinspirasi dari Medusa. Lalu Dr. Hogback langsung mengingatkan saya pada Victor Frankenstein. Beberapa episode sebelumnya ada karakter yang mulai dikenalkan sebentar bernama Don Quixote, membuat saya pengen baca novelnya yang sudah bertahun-tahun nangkring di rak dan masih belum terbuka segelnya.

Ada banyak sekali yang bisa dibahas dari anime ini. Dari plot cerita, inspirasi, sampai kerumitan karakter-karakternya. Dan setelah menontonnya sendiri, saya jadi menyadari kenapa para fans nggak merasa bosan dengan One Piece. Karena One Piece bukanlah cerita tentang Luffy. One Piece menceritakan orang-orang yang bertemu dengan Luffy, sehingga ceritanya selalu baru. Karakter Luffy yang bodoh membuat keunggulan teman-temannya jadi terlihat, sehingga kata-kata Luffy "Aku tidak akan bisa menjadi Raja Bajak Laut tanpa kalian" menjadi sangat bermakna karena memang benar. Luffy hanyalah anak bodoh berhati tulus dan bersemangat baja yang kebetulan berhasil menarik orang-orang terbaik menjadi krunya. Dan tanpa mereka, Luffy tidak bisa apa-apa. Menurut saya, satu bagian ini dari One Piece yang membuat One Piece selalu menarik untuk ditonton.

CONVERSATION

0 Reviews:

Posting Komentar